简体中文
繁體中文
English
Pусский
日本語
ภาษาไทย
Tiếng Việt
Bahasa Indonesia
Español
हिन्दी
Filippiiniläinen
Français
Deutsch
Português
Türkçe
한국어
العربية
Ikhtisar:Hak atas fotoAFPImage captionRekaman CCTV yang menunjukkan terduga pelaku penembakan telah tersebar.
Presiden Donald Trump mengatakan “sikap penuh kebencian tidak memiliki tempat” di AS menyusul tewasnya 29 orang dalam dua insiden penembakan massal pada akhir pekan lalu, di tengah tuduhan bahwa dirinya seharusnya bertanggung jawab.
Dalam serangan di El Paso, 20 orang meninggal dunia, sementara sembilan orang tewas dalam penembakan di Dayton, Ohio.
Trump mengatakan “mungkin lebih banyak yang harus dilakukan” untuk menghentikan serangan seperti itu.
Tetapi para kritikus mengatakan Trump merupakan bagian dari masalah, karena retorikanya anti-imigran dan penolakannya terhadap upaya mengontrol kepemilikan senjata.
Seorang pria kulit putih berusia 21 tahun yang ditangkap atas insiden penembakan hari Sabtu di Texas diyakini telah mengunggah dokumen di dunia maya yang menyebut serangan itu sebagai respons terhadap “invasi Hispanik” di negara itu.
Penembakan di El Paso dan Dayton, AS: Setidaknya 29 orang tewas, pelaku 'akan dihukum mati'
Dua bocah meninggal dalam penembakan di California: 'Saya berharap ini hanya mimpi'
Penembakan di sekolah AS: Seorang siswa tewas, dua pelajar jadi tersangka
Motif pria bersenjata di Ohio, yang membunuh saudara perempuannya dan delapan orang lainnya pada Minggu sebelum ditembak mati oleh polisi, masih belum jelas.
Berbicara kepada wartawan, Trump mengatakan penembakan massal perlu dihentikan.
“Ini telah berlangsung selama bertahun-tahun di negara kami dan kami harus menghentikannya,” katanya.
Dia kemudian menghubungkan kedua serangan itu dengan “masalah penyakit mental”, dengan menyebut bahwa orang-orang bersenjata itu “sangat, sangat sakit mental”.
Apa yang terjadi di El Paso?
Pembantaian terjadi di toko swalayan Walmart dekat Cielo Vista Mall, beberapa mil dari perbatasan AS-Meksiko, yang saat itu ramai dikunjungi pengunjung.
Pelaku yang berusia 21 tahun menyerahkan diri setelah dihadang aparat kepolisian. Tersangka diketahui penduduk kota Allen di wilayah Dallas, sekitar 650 mil (1046km) timur dari El Paso.
Media AS melaporkan nama pria itu adalah Patrick Crusius. Kepada polisi, ia mengaku beraksi sendiri.
Penembakan ini, diyakini sebagai insiden paling mematikan kedelapan dalam sejarah AS modern, terjadi di kota yang sebagian besar populasinya yang berjumlah 680.000 adalah keturunan Hispanik.
Selain menyebabkan 20 korban jiwa, 26 orang terluka dalam penembakan itu.
Gambar CCTV yang disebut menunjukkan pelaku penembakan dan disiarkan di media AS menunjukkan seorang pria mengenakan kaus warna hitam, mengenakan penutup telinga, dan mengacungkan senapan serbu.
Hak atas fotoCBS NEWSImage caption
Connor Betts, 24 tahun, melepaskan tembakan di kawasan distrik hiburan malam terkenal pada Minggu dini hari.
Identitas para korban belum diungkap. Namun, Presiden Meksiko Manuel Lopez Obrador mengatakan tiga warga Meksiko telah tewas dan enam lainnya terluka dalam serangan tersebut, lansir kantor berita Reuters.
Dalam dokumen berisi empat halaman, yang dilaporkan dipasang sekitar 20 menit sebelum polisi menerima panggilan darurat pertama terkait insiden di Walmart, tersangka menyatakan dukungannya atas pria bersenjata yang menewaskan 51 orang di Christchurch, Selandia Baru, pada Maret lalu.
Sementara, para pejabat mengatakan penembakan itu diperlakukan sebagai “kasus teroris domestik”.
Menteri Luar Negeri Meksiko Marcelo Ebrard mengatakan tindakan tersangka yang menyasar orang-orang Hislanik dapat dikategorikan sebagai tindak terorisme, maka pihaknya dapat mengekstradisi pria bersenjata itu
“Bagi Meksiko, orang ini adalah seorang teroris,” katanya kepada wartawan.
Apa yang terjadi di Dayton?
Connor Betts, 24 tahun, melepaskan tembakan di kawasan distrik hiburan malam terkenal pada Minggu dini hari.
Rekaman kamera keamanan menunjukkan lusinan orang berlomba melewati pintu klub malam Ned Peppers setempat.
Beberapa detik kemudian, Betts terlihat berlari ke arah keramaian dan terkena tembakan polisi ketika dia mencapai pintu.
Polisi mengatakan Betts mengenakan pelindung tubuh dan tiba ke lokasi sambil membawa amunisi tambahan untuk senapan serbu kaliber 223.
“Seandainya orang ini berhasil melewati pintu Ned Peppers dengan persenjataan yang dimilikinya, bakal banyak orang menjadi korban,” kata Kepala Kepolisian Dayton, Richard Biehl.
Para pejabat mengatakan masih terlalu dini untuk berspekulasi tentang motif serangan itu.
Connor Betts, 24 tahun, yang diidentifikasi sebagai pelaku penembakan, melangsungkan aksinya menggunakan senapan serbu sambil mengenakan pelindung tubuh di luar klub malam setempat, Ned Peppers.
Hingga kini, motifnya belum diketahui. Namun, polisi tidak menemukan adanya indikasi “motif bias” terhadap kelompok tertentu dalam penembakan tersebut.
Pelaku tewas ditembak polisi saat mencoba menerobos masuk ke dalam klub malam itu.
Disclaimer:
Pandangan dalam artikel ini hanya mewakili pandangan pribadi penulis dan bukan merupakan saran investasi untuk platform ini. Platform ini tidak menjamin keakuratan, kelengkapan dan ketepatan waktu informasi artikel, juga tidak bertanggung jawab atas kerugian yang disebabkan oleh penggunaan atau kepercayaan informasi artikel.